Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Afasia perkembangan


Afasia perkembangan



Dikenal sejumlah bentuk kelainan atau gangguan wicara pada anak yang pendengarannya normal, antara lain:
* Afasia perkembangan
* Dislogia
* Gangguan pemusatan perhatian atau Attention Deficit Disorders (ADD)
* Disartia
* Autisme

Afasia perkembangan, adalah salah satu bentuk gangguan wicara pada anak yang disebabkan oleh kegagalan perkembangan wicara dan bahasa, tanpa adanya gangguan pendengaran maupun gangguan kecerdasan. Afasia perkembangan terjadi akibat kerusakan pusat wicara di otak. Secara umum afasia merupakan gangguan dalam hal pemahaman dan pengutaraan bahasa (persepsi dan motorik) baik secara lisan maupun secara tertulis.
Afasia perkembangan dibedakan menjadi :

(1) Afasia perkembangan ekspresif, anak dapat mengerti percakapan akan tetapi tidak dapat mengekpresikan konsep     jawabannya.
(2) Afasia perkembangan reseptif, dimana terdapat kesulitan untuk memahami bahasa secara memadahi.
Gejala afasia bisa sedemikian ringannya sehingga orang tua dan lingkungan tidak mengetahui atau menyadarinya. Sebaliknya gejala afasia dapat demikian beratnya sehingga pasien sama sekali tidak dapat memahami atau mengucapkan sepatah katapun.

Dislogia merupakan bentuk lain dari gangguan wicara akibat retardasi mental atau kemampuan intelegensi anak di bawah rata-rata usia normal. Anak akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan wicara dan bahasa.
Pada gangguan pemusatan perhatian (Attention Deficit Disorders) yang gejalanya antara lain berupa perilaku hiperaktif, perkembangan wicara terganggu akibat terjadinya kerusakan minimal pada otak.
Disatria anak masih dapat mengeluarkan kata-kata namun terjadi kelainan pola bunyi dalam hal produksi dan artikulasi.
Dislalia adalah keterlambatan fungsi wicara dan berbahasa dengan taraf intelegensi normal atau di atas usia normal tanpa ada gangguan pendengaran maupun kerusakan otak.

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif (bersifat luas, berat serta mempengaruhi seseorang secara mendalam).
Autisme ditandai dengan gangguan interaksi dengan orang lain, keterlambatan dan penyimpangan wicara, disertai perilaku yang aneh. Anak terkesan cuek, seolah-olah tidak mendengar karena tidak merespon suara panggilan dari orang yang dikenalnya.
Pada observasi lebih lanjut anak dapat memberikan reaksi terhadap suara dari lingkungannya seperti suara motor, televisi, mesin, hewan, namun tidak merespon suara manusia. Pada pemeriksaan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometri) ternyata tidak didapatkan kelainan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak terkesan tidak mendengar karena suara tertentu tidak menarik minatnya.

Afasia perkembangan Dikenal sejumlah bentuk kelainan atau gangguan wicara pada anak yang pendengarannya normal, antara lain: * A...

Penyebab Disleksia


Penyebab Disleksia



Tidak ada penyebab tunggal yang diketahui untuk gangguan membaca karena banyak disertai gangguan belajar dan kesulitan berbahasa, gangguan membaca kemungkinan adalah multifactorial.
1.       Pemaparan prenatal dengan penyakit infeksi maternal.
2.       Genetik, cenderung menonjol diantara anggota keluarga orang yang terkena.
3.    Model fungsi hemisferik serebral, menyatakan korelasi positif gangguan membaca kebingungan antara kanan dan kiri (right-left confusion)
4.   Beberapa penelitian terakhir (pemeriksaan tomografi computer [CT; computed tomography]; pencitraan resonansi magnetic [MRI; magnetic resonance imaging], dan pada otopsi) telah menunjukkan simetrisitas abnormal pada lobus temporalis dan parietas orang dengan gangguan membaca.

Insidensi tinggi gangguan membaca cenderung ditemukan pada anak-anak dengan palsi serebral yang memiliki kecerdasan normal. Insidensi gangguan membaca yang agak tinggi ditemukan diantara anak epileptik. Komplikasi selama kehamilan; kesulitanpranatal dan pascanatal, termasuk prematuritas; dan berat badan lahir rendah adalah sering ditemukan dalam riwayat anak dengan gangguan membaca.
Gangguan membaca mungkin merupakan salah satu manifestasi dari keterlambatan perkembangan atau keterlambatan maturasional. Peranan temperamental telah dilaporkan berhubungan erat dengan gangguan membaca. Dibandingkan dengan anak – anak tanpa gangguan membaca, anak – anak dengan gangguan membaca seringkali memiliki lebih banyak kesulitan dalam memusatkan perhatian dan memiliki rentang perhatian yang pendek.
Beberapa penelitian menunjukkan suatu hubungan antara malnutrisi dan fungsi kognitif. Gangguan membaca berat seringkali disertai dengan masalah psikiatrik.

Penyebab Disleksia Tidak ada penyebab tunggal yang diketahui untuk gangguan membaca karena banyak disertai gangguan belajar da...

Aphasia


Aphasia


Aphasia adalah kelainan dalam berbahasa yang mungkin termasuk kesulitan dalam
memproduksi atau memahami bahasa secara lisan atau tertulis. Secara umum, aphasiamenunjukkan kerusakan total kemampuan bahasa, dan dysphasia tingkat kerusakan tidak total. Namun, istilah dysphasia dibingungkan dengan disfagia, sebuah gangguan menelan.
Tergantung pada daerah dan luasnya kerusakan otak, orang yang menderita aphasia mungkin dapat berbicara, tetapi tidak menulis, atau sebaliknya, atau menampilkan salah satu dari berbagai kekurangan dalam bahasa pemahaman dan keluaran hasil, seperti mampu bernyanyi tapi tidak bisa berbicara. Afasia mungkin terjadi bersama- sama dengan gangguan bicara seperti gangguan berbicara dysarthria atau apraxia, yang juga akibat dari kerusakan otak.
Aphasia dapat dinilai dalam berbagai cara, dari pemeriksaan klinis selama beberapa jam memeriksa komponen- komponen bahasa dan komunikasi. Prognosis aphasia sangat bervariasi tergantung pada usia pasien, lokasi dan ukuran lesi, dan jenis aphasia.

Penyebab

Aphasia biasanya disebabkan oleh lesi dalam area berbahasa yang berhubungan dengan lobus frontal, lobus temporal dan lobus parietal di otak, seperti wilayah Broca, Wernicke’s area, dan jalur saraf di antara mereka. Area ini hampir selalu terletak di belahan otak kiri,dan pada banya orang tempat ini sebagai kemampuan untuk memnghasilkan dan memahami bahasa. Namun, minoritas mengatakan bahwa kemampuan bahasa yang ditemukan berada di belahan kanan. Pada kasus yang kedua, kerusakan daerah bahasa ini dapat disebabkan oleh stroke, traumatis, atau lainnya cedera otak. Aphasia berkembang secara perlahan-lahan, seperti dalam kasus tumor otak atau progresif penyakit saraf, misalnya penyakitAlzheimer atau Parkinson. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh perdarahan tiba- tiba yang terjadi  di dalam otak. Neurologis kronis tertentu, seperti epilepsi atau migren, dapat juga meliputi gejala episodik. Aphasia juga terdaftar sebagai efek samping yang jarang darifentanyl, suatu opioid yang digunakan untuk mengontrol rasa sakit kepala kronis.

Gejala

Penderita Aphasia mungkin mengalami salah satu dari perilaku berikut karena cedera otak yang diperoleh, meskipun beberapa dari gejala- gejala ini mungkin disebabkan oleh atau berhubungan dengan
masalah seperti seiring dysarthria atau apraxia.

·         ketidakmampuan untuk memahami bahasa
·         ketidakmampuan untuk mengucapkan, bukan karena kelumpuhan atau kelemahan otot
·         ketidakmampuan untuk bicara spontan
·         ketidakmampuan untuk membentuk kata-kata
·         ketidakmampuan untuk menyebut nama objek
·         miskin ucapan atau bahasa
·         berlebihan dalam berkreasi dan menggunakan neologisme pribadi
·         ketidakmampuan untuk mengulang frase
·         paraphasia (mengganti huruf, suku kata atau kata-kata)
·         agrammatism (ketidakmampuan untuk berbicara dengan gaya bahasa yang benar)
·         dysprosody (perubahan dalam infleksi, stres, dan irama)
·         tidak bisa melengkapi kalimat
·         ketidakmampuan membaca
·         ketidakmampuan untuk menulis
·         terbatasnya perilaku verbal
·         kesulitan dalam penamaan atau pelabelan

Perawatan

Tidak ada satu perawatan yang terbukti secara efektif untuk mengobati semua jenis aphasia. TerapiIntonasi Melodis sering digunakan untuk mengobati aphasia terbukti sangat efektif dalam beberapa kasus.

Tokoh terkenal penderita
1.       Maurice Ravel
2.       Vissarion Shebalin
3.       Jan Berry dari Jan dan Dean
4.       Sven Nykvist
5.       Ralph Waldo Emerson
6.       Antony Flew
7.       Bob Woodruff
8.      Ryder dari The Kevin dan Bean Show
   9.   Toggle, veteran perang Irak yang terluka.

Aphasia Aphasia adalah   kelainan dalam berbahasa   yang mungkin termasuk kesulitan dalam memproduksi atau memahami bahasa secara lisan at...

Pembinaan Profesional Guru SLB

èMetode pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan sosialèmetode simulasi
Pembelajaran tematisèkebermaknaan materi pelajaran dalam ADL
Pengembangan kurikulum bagi ABKèKurikulum berdiferensial
Penataan bahan ajar untuk ATGèfakta menuju konsep

Selengkapnya simak dalam Slides di bawah ini :


— è Metode pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan sosial è metode simulasi — Pembelajaran tematis è kebermaknaan materi pelajaran dal...

Bahan Ajar BKPBI (Kesatu)

2. Bahan Ajar Kesatu

Program Khusus : BKPBI Non Bahasa
Standar Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar  
                                   (ABM) atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak.
Kompetensi Dasar    : Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (lonceng) yang diperdengarkan langsung
                                  secara terprogram.
Indikator                   :
10. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bertepuk tangan.
11. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan melipat tangan.
12. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan membunyikan lonceng.
13. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan diam saja.
14. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan mengucapkan ada bunyi
15. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan mengucapkan tidak ada bunyi
16. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan menuliskan ada bunyi.
17. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan menuliskan tidak ada bunyi.
18. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bermain peran pembeli es lilin.
Program Khusus : BKPBI Non Bahasa
Tujuan Pembelajaran :
Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari
ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya.

KEGIATAN:
• Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan
   pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan
   percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon
   untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
• Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru
   dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran)
   secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak
   ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa:
   gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain
   peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera
   pendengaran saja.
• Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

EVALUASI
• Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.
• Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
• Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.

LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama                      : ……………………………………………………
Kelas, semester       : 1/1
Data Pendengaran   : kanan: … dB kiri : … dB
ABM                      : Memakai/Tidak memakai Jenis : ………
Materi                     : ………………………………………………………….
Nilai Perolehan        : …………………………………………………………


Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai : 0
Respon siswa yang salah diisi pada kolom keterangan

LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama                        : Greg
Kelas, semester         : 1/1
Data Pendengaran     : kanan: 90dB kiri : 110 dB
ABM                        : Memakai/Tidak memakai * Jenis :Belakang Telinga (BTE )**
Materi                       : Deteksi ada bunyi dan tidak ada bunyi lonceng.***
Nilai Perolehan          : B

Catatan:
Reaksi benar nilai : 1
Reaksi salah nilai   : 0

Rumus Perhitungan Prosentase Penilaian:
NILAI PEROLEHAN = Score Perolehan x 100%
Score maksimal
Kriteria Penilain
A : 90% - 100%
B : 70% - 89%
C : 55% - 69%
K : ≤ 54%
Dari nilai perolehan ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
A : Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil sempurna
B: Siswa mampu mendeteksi bunyi lonceng dengan hasil baik.
C: Siswa mulai mampu mendeteksi bunyi lonceng
K: Siswa belum mampu mendeteksi bunyi lonceng


2. Bahan Ajar Kesatu Program Khusus : BKPBI Non Bahasa Standar Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat ban...

Strategi Pembelajaran Program Khusus Bina Diri Bagi Anak Tunagrahita

 
Strategi Pembelajaran Program Khusus Bina Diri Bagi Anak Tunagrahita
Di Kutip Dari: Deded Koswara, M.M.Pd

A.               A. Pendahuluan


Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru beraneka ragam. Ada guru yang memulai kegiatannya dengan menunggu pertanyaan dari siswa, ada yang aktif memulai dengan

mengajukan pertanyaan kepada siswa, ada pula yang mulai dengan memberikan penjelasan materi yang akan diuraikan, dan ada yang memulai dengan mengulangi penjelasan tentang materi yang lalu, dikaitkan dengan pelajaran yang baru. Sebagian, ada yang melanjutkan dengan kegiatan menjawab dengan pertanyaan siswa, membentuk kelompok diskusi atau menggunakan program kaset untuk didengarkan bersama. Biasanya, kegiatan pembelajaran itu ditutup dengan tes atau rangkuman materi yang telah dijelaskan.

Setiap guru mempunyai cara sendiri untuk menentukan urutan kegiatan pembelajarannya. Setiap cara dipilih atas dasar keyakinan akan berhasil menggunakannya dalam mengajar. Pemilihan cara mengajar mungkin didasarkan atas intuisi, kepraktisan, atau mungkin pula atas dasar teori-teori tertentu.

Bagi seorang guru, kemampuan menyusun strategi pembelajaran merupakan modal utama dalam merencanakan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Apa yang akan diajarkannya bukan saja harus relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran. Melainkan juga harus dapat dikuasai, dimiliki dengan baik oleh peserta didik yang diajarnya. Di samping itu, kegiatan pembelajaran juga harus menarik dan bervariasi.

Bagi seorang pengelola program pendidikan, kemampuan menyusun strategi pembelajaran sangat bermanfaat dalam menetapkan materi pelajaran, media, dan fasilitas yang dibutuhkan serta dalam menyarankan penggunaan metode pembelajaran yang lebih tepat kepada guru. Sedangkan bagi guru sebagai pengembang pembelajaran, kemampuan tersebut merupakan tulang punggung dalam menyusun bahan ajar atau membuat prototipe sistem/model pembelajaran. 

B. Pengertian

Strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistimatis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai/dimiliki oleh peserta didik dan dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Untuk itu di dalam strategi pembelajaran terkandung empat unsur/komponen sebagai berikut :

1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran      kepada peserta didik dan kegiatan peserta didik dalam merespons materi;

2. Metode pembelajaran, yaitu cara guru mengorganisasikan dan menyampaikan pelajaran, materi pelajaran dan mengorganisasikan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran

3. Media pembelajaran, peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

4. Waktu yang digunakan oleh guru dan peserta didik untuk menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran;

Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, metode pembelajaran, media dan bahan pelajaran, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran dapat pula disebut sebagai cara sistimatis dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran berkenaan dengan bagaimana (the how) menyampaikan isi pelajaran.

Rumusan strategi pembelajaran lebih dari sekedar urutan kegiatan dan metode pembelajaran saja. Di dalamnya terkandung pula media pembelajaran dan pembagian waktu untuk setiap langkah kegiatan tersebut.
 

C. Komponen Strategi Pembelajaran

Secara keseluruhan strategi pembelajaran terdiri dari empat komponen utama, yaitu :

1. Urutan kegiatan pembelajaran

Komponen Utama yang pertama, yaitu urutan kegiatan pembelajaran mengandung beberapa komponen, yaitu pendahuluan, penyajian dan penutup.

Komponen Pendahuluan terdiri atas tiga langkah sebagai berikut :

a. Penjelasan singkat tentang isi pelajaran.
b. Penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman peserta didik, dan
c. Penjelasan tentang tujuan pembelajaran.

Komponen Penyajian juga terdiri atas tiga langkah, yaitu :

a. Uraian
b. Contoh dan
c. Latihan.

Komponen penutup terdiri atas dua langkah sebagai berikut :
a. Tes formatif dan umpan balik dan
b. Tindak lanjut.

 2. Metode pembelajaran

Komponen Utama yang Kedua, yaitu metode pembelajaran, terdiri atas berbagai macam metode yang dapat digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Setiap langkah tersebut mungkin menggunakan satu atau beberapa metode, tetapi mungkin pula beberapa langkah menggunakan metode yang sama

Metode pembelajaran harus mampu menghantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan cara-cara yang tepat sehingga memberi kemudahan peserta didik dalam belajarnya. Selain itu fungsi metode dalam pembelajaran akan optimal apabila di dalam penggunaannya mampu memberikan kesenangan atau kegembiraan bagi peserta didik.

3. Media

Komponen Utama yang Ketiga, yaitu media pembelajaran, berupa media cetak, dan atau media non cetak seperti misalnya media Audio Visual yang dapat digunakan pada setiap langkah kegiatan pembelajaran, seperti halnya penggunaan metode pembelajaran, mungkin beberapa media digunakan pada suatu langkah atau satu media digunakan untuk beberapa langkah kegiatan pembelajaran

4. Bahan pelajaran

5. Waktu yang digunakan pengajar.

D. Menyusun Strategi Pembelajaran.........................

  Strategi Pembelajaran Program Khusus Bina Diri Bagi Anak Tunagrahita Di Kutip Dari: Deded Koswara, M.M.Pd A.                A. Pendahulu...

Sarana BKPBI

E. Sarana BKPBI

Dalam melaksanakan BKPBI dibutuhkan sarana antara lain:
1. Ruang untuk kegiatan pembelajaran BKPBI sebaiknya dilengkapi dengan
medan pengantar bunyi (sistem looping).
2. Perlengkapan latihan BKPBI terdiri atas:
a) Alat sebagai sumber bunyi
• Alat nonelektronik : lonceng, kentongan, gamelan, dan lainlain.
• Alat elektronik : tape recorder, salon, organ, piano, dan lainlain.
b) Alat penunjang latihan
• Alat ini digunakan sebagai alat peraga ketika siswa merespon bunyi.
Contoh : topeng, selendang, caping, kuda lumping.
3. Tenaga khusus pelaksana BKPBI hendaknya memenuhi beberapa
persyaratan, antara lain memiliki latar belakang pendidikan guru anak
tunarungu, memiliki dasar pengetahuan tentang musik, dan memiliki
kreativitas dalam bidang seni tari dan musik.
Sarana BKPBI diatas idealnya dimiliki oleh setiap SLB B, namun apabila belum
tersedia, pelaksanaan BKPBI harus tetap berjalan dengan menggunakan peralatan
yang ada sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Yang perlu diingat adalah
tahap-tahap pelaksanaan.

A. Pelaksanaan BKPBI
1. Bahan Ajar Kesatu
Program Khusus : BKPBI Non Bahasa Standar
Kompetensi : Mendeteksi bunyi-bunyi di sekitarnya dengan menggunakan alat bantu mendengar (ABM)
atau tanpa menggunakan ABM, sebatas sisa pendengaran anak.
Kompetensi Dasar : Menyadari ada dan tidak ada bunyi tertentu (lonceng) yang diperdengarkan langsung secara terprogram.

Indikator : 
1. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bertepuk tangan.
2. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan melipat tangan.
3. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan membunyikan lonceng.
4. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan diam saja.
5. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan mengucapkan ada bunyi
6. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan mengucapkan tidak ada bunyi
7. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan menuliskan ada bunyi.
8. Mampu memberikan reaksi tidak ada bunyi lonceng dengan menuliskan tidak ada bunyi.
9. Mampu memberikan reaksi ada bunyi lonceng dengan bermain peran pembeli es lilin.

Tujuan Pembelajaran :
Siswa mampu meningkatkan kepekaan fungsi pendengaran dan perasaan vibrasi untuk menyadari
ada dan tidak ada bunyi dengan menggunakan atau tanpa menggunakan ABM agar dapat
berkomunikasi dengan lingkungannya.

KEGIATAN:

• Guru menempatkan siswa sesuai dengan kondisi serta melakukan pengecekan ABM (bila menggunakan) kemudian dilanjutkan dengan percakapan, dimana hasil percakapan itu digunakan sebagai titik tolak respon
untuk materi yang akan dilaksanakan pada saat itu.
• Siswa memperhatikan dan mendengarkan bunyi yang diperdengarkan guru dengan memanfaatkan semua inderanya (penglihatan, vibrasi, pendengaran) secara klasikal maupun kelompok, kemudian siswa mereaksi ada atau tidak ada bunyi yang diperdengarkan guru dengan memberikan respon berupa: gerakan, membunyikan, mengucapkan kata, menuliskan kata, atau bermain peran. Kegiatan ini dilanjutkan dengan mereaksi bunyi menggunakan indera pendengaran saja.
• Guru melakukan pengamatan dari reaksi yang dilakukan siswa.

EVALUASI
• Guru memilih salah satu respon yang harus dilakukan anak untuk evaluasi.
• Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
• Guru mengamati dan mencatat respon anak pada lembar pengamatan.

LEMBAR PENGAMATAN SISWA
Nama                      : ……………………………………………………
Kelas, semester       : 1/1
Data Pendengaran   : kanan: … dB kiri : … dB
ABM                      : Memakai/Tidak memakai Jenis : ………
Materi                     : ………………………………………………………….
Nilai Perolehan        : …………………………………………………………



Catatan:
Reaksi benar nilai     : 1
Reaksi salah nilai      : 0
Respon siswa yang salah diisi pada kolom keterangan

Bekasi .......................2010
   Guru BKPBI


Basuki Rakhmat, S.Pd


E. Sarana BKPBI Dalam melaksanakan BKPBI dibutuhkan sarana antara lain: 1. Ruang untuk kegiatan pembelajaran BKPBI sebaiknya dilengkapi deng...


Top