Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Afasia perkembangan


Afasia perkembangan



Dikenal sejumlah bentuk kelainan atau gangguan wicara pada anak yang pendengarannya normal, antara lain:
* Afasia perkembangan
* Dislogia
* Gangguan pemusatan perhatian atau Attention Deficit Disorders (ADD)
* Disartia
* Autisme

Afasia perkembangan, adalah salah satu bentuk gangguan wicara pada anak yang disebabkan oleh kegagalan perkembangan wicara dan bahasa, tanpa adanya gangguan pendengaran maupun gangguan kecerdasan. Afasia perkembangan terjadi akibat kerusakan pusat wicara di otak. Secara umum afasia merupakan gangguan dalam hal pemahaman dan pengutaraan bahasa (persepsi dan motorik) baik secara lisan maupun secara tertulis.
Afasia perkembangan dibedakan menjadi :

(1) Afasia perkembangan ekspresif, anak dapat mengerti percakapan akan tetapi tidak dapat mengekpresikan konsep     jawabannya.
(2) Afasia perkembangan reseptif, dimana terdapat kesulitan untuk memahami bahasa secara memadahi.
Gejala afasia bisa sedemikian ringannya sehingga orang tua dan lingkungan tidak mengetahui atau menyadarinya. Sebaliknya gejala afasia dapat demikian beratnya sehingga pasien sama sekali tidak dapat memahami atau mengucapkan sepatah katapun.

Dislogia merupakan bentuk lain dari gangguan wicara akibat retardasi mental atau kemampuan intelegensi anak di bawah rata-rata usia normal. Anak akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan wicara dan bahasa.
Pada gangguan pemusatan perhatian (Attention Deficit Disorders) yang gejalanya antara lain berupa perilaku hiperaktif, perkembangan wicara terganggu akibat terjadinya kerusakan minimal pada otak.
Disatria anak masih dapat mengeluarkan kata-kata namun terjadi kelainan pola bunyi dalam hal produksi dan artikulasi.
Dislalia adalah keterlambatan fungsi wicara dan berbahasa dengan taraf intelegensi normal atau di atas usia normal tanpa ada gangguan pendengaran maupun kerusakan otak.

Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif (bersifat luas, berat serta mempengaruhi seseorang secara mendalam).
Autisme ditandai dengan gangguan interaksi dengan orang lain, keterlambatan dan penyimpangan wicara, disertai perilaku yang aneh. Anak terkesan cuek, seolah-olah tidak mendengar karena tidak merespon suara panggilan dari orang yang dikenalnya.
Pada observasi lebih lanjut anak dapat memberikan reaksi terhadap suara dari lingkungannya seperti suara motor, televisi, mesin, hewan, namun tidak merespon suara manusia. Pada pemeriksaan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometri) ternyata tidak didapatkan kelainan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak terkesan tidak mendengar karena suara tertentu tidak menarik minatnya.

Afasia perkembangan Dikenal sejumlah bentuk kelainan atau gangguan wicara pada anak yang pendengarannya normal, antara lain: * A...

Penyebab Disleksia


Penyebab Disleksia



Tidak ada penyebab tunggal yang diketahui untuk gangguan membaca karena banyak disertai gangguan belajar dan kesulitan berbahasa, gangguan membaca kemungkinan adalah multifactorial.
1.       Pemaparan prenatal dengan penyakit infeksi maternal.
2.       Genetik, cenderung menonjol diantara anggota keluarga orang yang terkena.
3.    Model fungsi hemisferik serebral, menyatakan korelasi positif gangguan membaca kebingungan antara kanan dan kiri (right-left confusion)
4.   Beberapa penelitian terakhir (pemeriksaan tomografi computer [CT; computed tomography]; pencitraan resonansi magnetic [MRI; magnetic resonance imaging], dan pada otopsi) telah menunjukkan simetrisitas abnormal pada lobus temporalis dan parietas orang dengan gangguan membaca.

Insidensi tinggi gangguan membaca cenderung ditemukan pada anak-anak dengan palsi serebral yang memiliki kecerdasan normal. Insidensi gangguan membaca yang agak tinggi ditemukan diantara anak epileptik. Komplikasi selama kehamilan; kesulitanpranatal dan pascanatal, termasuk prematuritas; dan berat badan lahir rendah adalah sering ditemukan dalam riwayat anak dengan gangguan membaca.
Gangguan membaca mungkin merupakan salah satu manifestasi dari keterlambatan perkembangan atau keterlambatan maturasional. Peranan temperamental telah dilaporkan berhubungan erat dengan gangguan membaca. Dibandingkan dengan anak – anak tanpa gangguan membaca, anak – anak dengan gangguan membaca seringkali memiliki lebih banyak kesulitan dalam memusatkan perhatian dan memiliki rentang perhatian yang pendek.
Beberapa penelitian menunjukkan suatu hubungan antara malnutrisi dan fungsi kognitif. Gangguan membaca berat seringkali disertai dengan masalah psikiatrik.

Penyebab Disleksia Tidak ada penyebab tunggal yang diketahui untuk gangguan membaca karena banyak disertai gangguan belajar da...

Aphasia


Aphasia


Aphasia adalah kelainan dalam berbahasa yang mungkin termasuk kesulitan dalam
memproduksi atau memahami bahasa secara lisan atau tertulis. Secara umum, aphasiamenunjukkan kerusakan total kemampuan bahasa, dan dysphasia tingkat kerusakan tidak total. Namun, istilah dysphasia dibingungkan dengan disfagia, sebuah gangguan menelan.
Tergantung pada daerah dan luasnya kerusakan otak, orang yang menderita aphasia mungkin dapat berbicara, tetapi tidak menulis, atau sebaliknya, atau menampilkan salah satu dari berbagai kekurangan dalam bahasa pemahaman dan keluaran hasil, seperti mampu bernyanyi tapi tidak bisa berbicara. Afasia mungkin terjadi bersama- sama dengan gangguan bicara seperti gangguan berbicara dysarthria atau apraxia, yang juga akibat dari kerusakan otak.
Aphasia dapat dinilai dalam berbagai cara, dari pemeriksaan klinis selama beberapa jam memeriksa komponen- komponen bahasa dan komunikasi. Prognosis aphasia sangat bervariasi tergantung pada usia pasien, lokasi dan ukuran lesi, dan jenis aphasia.

Penyebab

Aphasia biasanya disebabkan oleh lesi dalam area berbahasa yang berhubungan dengan lobus frontal, lobus temporal dan lobus parietal di otak, seperti wilayah Broca, Wernicke’s area, dan jalur saraf di antara mereka. Area ini hampir selalu terletak di belahan otak kiri,dan pada banya orang tempat ini sebagai kemampuan untuk memnghasilkan dan memahami bahasa. Namun, minoritas mengatakan bahwa kemampuan bahasa yang ditemukan berada di belahan kanan. Pada kasus yang kedua, kerusakan daerah bahasa ini dapat disebabkan oleh stroke, traumatis, atau lainnya cedera otak. Aphasia berkembang secara perlahan-lahan, seperti dalam kasus tumor otak atau progresif penyakit saraf, misalnya penyakitAlzheimer atau Parkinson. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh perdarahan tiba- tiba yang terjadi  di dalam otak. Neurologis kronis tertentu, seperti epilepsi atau migren, dapat juga meliputi gejala episodik. Aphasia juga terdaftar sebagai efek samping yang jarang darifentanyl, suatu opioid yang digunakan untuk mengontrol rasa sakit kepala kronis.

Gejala

Penderita Aphasia mungkin mengalami salah satu dari perilaku berikut karena cedera otak yang diperoleh, meskipun beberapa dari gejala- gejala ini mungkin disebabkan oleh atau berhubungan dengan
masalah seperti seiring dysarthria atau apraxia.

·         ketidakmampuan untuk memahami bahasa
·         ketidakmampuan untuk mengucapkan, bukan karena kelumpuhan atau kelemahan otot
·         ketidakmampuan untuk bicara spontan
·         ketidakmampuan untuk membentuk kata-kata
·         ketidakmampuan untuk menyebut nama objek
·         miskin ucapan atau bahasa
·         berlebihan dalam berkreasi dan menggunakan neologisme pribadi
·         ketidakmampuan untuk mengulang frase
·         paraphasia (mengganti huruf, suku kata atau kata-kata)
·         agrammatism (ketidakmampuan untuk berbicara dengan gaya bahasa yang benar)
·         dysprosody (perubahan dalam infleksi, stres, dan irama)
·         tidak bisa melengkapi kalimat
·         ketidakmampuan membaca
·         ketidakmampuan untuk menulis
·         terbatasnya perilaku verbal
·         kesulitan dalam penamaan atau pelabelan

Perawatan

Tidak ada satu perawatan yang terbukti secara efektif untuk mengobati semua jenis aphasia. TerapiIntonasi Melodis sering digunakan untuk mengobati aphasia terbukti sangat efektif dalam beberapa kasus.

Tokoh terkenal penderita
1.       Maurice Ravel
2.       Vissarion Shebalin
3.       Jan Berry dari Jan dan Dean
4.       Sven Nykvist
5.       Ralph Waldo Emerson
6.       Antony Flew
7.       Bob Woodruff
8.      Ryder dari The Kevin dan Bean Show
   9.   Toggle, veteran perang Irak yang terluka.

Aphasia Aphasia adalah   kelainan dalam berbahasa   yang mungkin termasuk kesulitan dalam memproduksi atau memahami bahasa secara lisan at...

Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran Kontekstual



KONSEP belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confusius, 2400 tahun yang silam dengan mengemukakan teori sebagai berikut, selanjutnya Mel Silberman dalam bukunya ” Active Learning ”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, 2002 mengembangkan pernyataan Confusius Belajar Aktif sebagai berikut :Apa yang saya dengar saya lupa.Apa yang saya lihat saya ingat sedikitApa yang saya dengar, lihat dan diskusikan saya mulai mengertiApa yang saya lihat, dengar, diskusikan dan kerjakan saya dapat pengetahuan dan ketram-pilanApa yang saya ajarkan saya kuasai. Setiap siswa mempunyai gaya yang berbada dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter ( 1992 ) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar tehadap gaya belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai sistem penindasan. Kearifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, otak membantu melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal.
Belajar secara pasif tidak ” hidup ”, karena siswa mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa daya tarik pada hasil, sedangkan secara aktif siswa dituntut mencari sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan terlibat secara optimal.Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan model pembelajaran kontekstual :
1.      Siswa dalam pembelajaran dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sementara berada pada tahap – tahap perkem-bangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tikat per-kembangan dan pengalaman me-reka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkem-bangannya.
2.      Siswa memiliki kecenderungan untuk belajar hal baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal – hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
3.      Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal – hal yang baru dengan hal – hal yang sudah di ketehui. Dengan demikian, peranan guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
4.      Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada ( asimilasi ) atau proses pembentukan skema ratu atau ( akomodasi ), dengan demi-kian tugas guru adalah memfasilitasi ( mempermudah ) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi. Pendekatan pembelajaran kontekstual atau CTL diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya nanti. Dalam kelas kontekstual, guru berusaha membantu siswa mencapai tujuan.

Maksudnya guru lebih bannyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Pengetahuan dan ketrampilan diperoleh dengan menemukan sendiri bukan apa kata guru. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi – strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.


KONSEP belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confusius, 2400 tahun yang silam dengan mengemukakan teori sebagai berikut, selanjutn...


Top